Kini Pukul :

Selain Hamili ABG 13 Tahun, Pendeta Ini Ganggu Istri Jemaatnya di Bekasi

Teddy, Suami dari Endang Retno Ningrum, (35).
saat memperagakan pelecehan seksual yang dilakukan seorang pendeta, kepada istrinya.
vnn.co.id, Bekasi - Endang Retno Ningrum (35) warga Perumahan Pondok Timur Indah, Jatimulya, Bekasi, menjadi korban pelecehan seksual seorang pendeta GPPS Filadelfia, Bekasi, Djoko Martanto (DM).

Sebelum Endang, pendeta ini juga pernah menyetubuhi anak dibawah berinsial CV (15) hingga hamil dan melahirkan anak laki-laki yang saat ini diadopsi di Surabaya, Jawa Timur.

Dikisahkan Endang, dari lansiran media online beritabekasi.co.id, dirinya nyaris jadi korban nafsu bejat sang pendeta Djoko Martanto (56) disetiap kegiatan Gereja. Pelaku selalu mencoba merayu dengan kata-kata mesra dan memancing dirinya melalui telepon ataupun melalui pesan singkat (SMS).

“Bahasa SMS-nya sama kata-katanya dengan yang dia kirim ke CV dan selalu beralasan perintah Tuhan dan Tuhan selalu merestui,” ujarnya dihadapan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Bekasi, Rury Arief Rianto.

Endang yang didampingi suaminya, Teddy (39) melanjutkan, ketika SMS tidak pernah ditanggapi, sang pendeta pun mulai meningkatkan reaksinya pada 23 Agustus 2015 yang nekat mencoba mengelus pipinya dengan tangan ketika tengah melakukan doa.

“Memang berdoa itu saya tidak sendiri, ada beberapa jemaat lainnya, tapi mereka tidak melihat, karena memang kami diajarkan pendeta ketika melakukan berdoa mata harus terpejam supaya khusuk agar pikiran tidak terganggu. Namun, hal tersebut dimanfaatkannya untuk mencoba mengelus pipi saya dan saya pun jadi risih,” terangnya.

Usai melakukan doa, Endang mencoba menegor sang pendeta, namun pendeta malah marah-marah dengan kata-kata bahwa itu perintah Tuhan.

“Kalau tidak dituruti maka saya dan suami akan celaka. Ini perintah Tuhan, kamu tidak usah protes atau menolak dan hal seperti ini tidak usah kamu bilang kepada siapa-siapa, termasuk suami kamu. Ada hal-hal yang perlu disampaikan dan ada juga hal yang tidak perlu disampaikan seperti hal ini, karena ini merupakan perintah dari Tuhan,” kata Endang menirukan kata-kata sang pendeta Djoko Martanto.
(paling kanan) Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Bekasi, Rury Arief Rianto,
mendampingi korban pelecehan seksual yang dilakukan seorang pendeta.
Masih kata Endang, pada hari berikutnya, hal yang sama pun ketika tengah berdoa dilakukan lagi oleh pendeta Djoko Martanto dengan mengelus pipi dan dagunya. Namun hal tersebut langsung ditepis dengan tangannya.

“Setelah saya tegor gitu, besoknya dia lakukan lagi, akhirnya saya tepis dengan tangan saya dan melaporkannya kepada suami dirumah bahwa saya sudah tidak mau lagi mengikuti segala kegiatan Gereja Djoko Martanto. Suami saya pun kaget dan tidak terima yang akhirnya menelepon dia malah disumpah-sumpahi biar celaka dan jadi susah,” tandasnya.

Ditambahkan suaminya, Teddy, bahwa dirinya sangat kecewa dengan sikap dan kelakuan pendeta Djoko Martanto dengan berbuat asusila dan bahkan sudah ada korban anak dibawah umur yang kehilangan keperawanannya ketika itu masih berusia 12 tahun hingga hamil dan melahirkan dan kelakuan itu dianggap sebagai perintah Tuhan.

“Saya yang bodoh seperti ini juga ngerti, mana ada perintah Tuhan yang menyuruh merusak anak orang, merusak masa depan orang dan merusak harapan orang tua korban dan sekarang mau merusak istri orang,” tegasnya dengan nada kesal dihadapan Komisioner KPAI Kota Bekasi, Rury Arief Rianto.

Sebenarnya lanjut Teddy, kelakuan bejat pendeta Djoko Martanto ini sudah lama di dengar, namun semua tertutup dan disebunyikan tidak mencuat keluar, awalnya masih tidak percaya akan kabar tersebut.

“Tapi setelah kejadian korban CV dan istri saya sendiri, jujur saya kaget. Sebenarnya pendeta Djoko Martanto ini sudah diberhetikan atau dicabut oleh persatuan Gereja GPPS Filahdelfia yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur, namun istrinya memohon minta diberikan kesempatan lagi, tapi kenyataannya malah tambah parah bahkan jatuh korban,” ungkapnya.

Menurut Teddy, pengekrutan tim doa dan segala kegiatan Gereja yang hampir setiap hari itu dari pagi sampai sore itu hanya alasan sang pendeta untuk selalu bertemu dengan jemaat yang tergabung dalam tim doa.

“Kalau jemaat itu jumlahnya memang puluhan dibawah 100 lah, tapi kalau untuk tim doanya itu hanya ada 4 orang yang dipilih dia untuk menjadi mangsa hawa nafsu bejatnya. Tim doa setiap hari dia suruh datang dengan berbagai alasan dari pagi sampai sore dengan berbagai macam alasan dan membawa nama-nama Tuhan,” katanya.

Redaksi

No comments