Fenomena Gentong Babi dan Kepolosan Rakyat -->
IKLAN PEMDA BEKASI IKLAN PEMDA BEKASI HUT RI 2023 VNNCOID

Fenomena Gentong Babi dan Kepolosan Rakyat

, 2/13/2024 07:32:00 AM


Vnn.co.id, Kabupaten Bogor - Kesadaran masyarakat seringkali timbul dari fenomena besar yang terjadi, peristiwa besar itu padahal rangkaian kejadian kecil yang luput dari mata-nya. Seperti fenomea gentong babi atau pork barel, Istilah gentong babi sendiri saya baru mengetahui tetapi fenomena itu sudah saya sadari sejak lama. Istilah Gentong Babi ini sendiri baru menjadi trend di media sosial dalam beberapa waktu terakhir setelah Bivitri Susanti memberikan sebuah pemaparan dalam film Dirty Vote.

 

Antusias politik masyarakat Indonesia yang didominasi anak muda sebagai mayoritas pemilih di Pemilu 2024 ini tidak diimbangkan dengan kualitas pertimbangan memilih calon pemimpin. Partisipasi politik yang hanya tinggi dalam statistik, tetapi lemah dalam kualitas. Partisipasi lebih banyak digerakan oleh instrumen mobilisasi bukan kesadaran dan kesukarelaan sebagai warga negara. Alat mobilisasi pun terus mengalami perubahan, Saat orde baru dulu senjata adalah alat mobilisasi, pasca orde baru uang merupakan alat yang paling utama yang digunakan sebagai alat mobilisasi.

 

Kontestan pemilu yang berlatar belakang  incumbent kebanyakan cenderung memanfaatkan keuasaannya untuk keuntungan pribadi. Bivitri dalam film berdurasi 1 jam 57 menit itu memaparkan fenomena  gentong babi ini yang merupakan istilah yang mengacu pada masa perbudakan di Amerika Serikat. Kala itu, budak-budak AS saling berebut demi mendapatkan daging babi yang diawetkan dalam gentong.

 

Karena kejadian itu, muncul istilah “ada orang-orang yang akan berebutan jatah resmi untuk kenyamanan dirinya” jadi yang dibicarakan disini adalah cara berpolitik yang menggunakan uang negara yang diambil dari pajak rakyat untuk digelontorkan ke daerah-daerah pemilihan agar dirinya bisa dipilih kembali.

 

Seperti program bantuan sosial (Bansos) yang dikeluarkan senilai senilai Rp 443,4 triliun. Polemik penggunaan bantuan sosial atau bansos sebagai alat politik mencuat jelang pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Bahkan ramai di publik pernyataan dari salah satu tim pemenangan capres bansos itu pemberian Presiden Joko Widodo.

 

Hal ini juga terjadi pada anggota DPR dan DPRD yang ingin maju kembali pada periode selanjutnya cenderung menggunakan cara-cara seperti ini. Menjelang pemilu, mereka memperjuangkan agar daerah pemilihan mereka mendapatkan berbagai fasilitas dan bantuan. Padahal, terkadang daerah itu tidak benar-benar membutuhkan bantuan yang diberikan.

 

Bagi-bagi Voucher pendidikan banyak dilakukan oleh anggota-anggota legislatif, kadang pembagian voucher pun tak tepat sasaran,  bukan lah sekolah-sekolah miskin yang bangunannya sudah hampir roboh, melainkan sekolah yang kaya secara finansial. "Uang yang diberikan pun tidak dasarkan pada fakta. Dibilangnya pribadi, namun itu sebenarnya bantuan dari pemerintah,"

 

Istilah ini mulai dikenal di Amerika Serikat setelah Perang Saudara, sekitar tahun 1860-an. Istilah ini muncul dalam buku cerita karya Edward Everett Hale berjudul The Children of the Public (1863). Melalui cerita tersebut, Hale menjelaskan istilah gentong babi untuk menggambarkan bagaimana pemerintah memanfaatkan pengeluaran publik untuk kepentingan politiknya. Metafora "gentong babi" sendiri dipakai bukannya tanpa alasan. Masyarakat Amerika dulunya menggunakan gentong berisi garam untuk menyimpan daging babi supaya awet. Gentong babi sendiri melambangkan sebuah tempat untuk kekayaan, aset, atau proyek bernilai yang dipegang penguasa. (https://tirto.id/gVuQ)

 

Selama ini kegiatan partisipasi masyarkat masih dipahami sebagai upaya mobilitasi masyarakat untuk kepentingan Pemerintah atau Negara. Padahal sebenarnya partisipasi idealnya masyarakat ikut serta dalam menentukan kebijakan Pemerintah yaitu bagian dari kontrol masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah.

 

Rakyat pemegang kekuasaan tinggi negara seakan hanya sebuah dongeng ibu kepada anaknya tentang apa itu Indonesia. Hajat lima tahunan yang bernama pemilu merupakan ajang pertarungan yang hanya menjadikan rakyat sebagai alat kepentingan melalui sesuatu yang bernama hak suara. Rakyat menjadi senang menjadi tim sukses, menjadi saksi, petugas KPPS dan  lainnya. Setelah itu kemana nasib mereka pasca pemilu nanti?

 

 

Dalam fenomena Gentong Babi ini adalah upaya pembodohan seakan bantuan kepada rakyat adalah bersumber dari mereka yang berkuasa, padahal itu adalah uang rakyat melalui pajak dan terhimpun dalam APBN dan APBD. Gerakan literasi rakyat paska pemilu harus di sosialisasikan agar rakyat memiliki pengetahuan untuk mengontrol wakilnya di parlemen dan di pemerintahan.


TerPopuler

close