Pentingnya Jiwa di Dalam Pendidikan -->
IKLAN PEMDA BEKASI IKLAN PEMDA BEKASI HUT RI 2023 VNNCOID

Pentingnya Jiwa di Dalam Pendidikan

, 1/20/2024 03:19:00 PM

 

 Vnn.co.id, Kabupaten Bogor- Jiwa haruslah menjadi center pendidikan kita,  perbaikan jiwa untuk komponen-komponen pendidikan dari orang tua,  guru,  dan peserta didik haruslah dijadikan prioritas di dalam konsep pendidikan kita.  


Keberadaan jiwa manusia, kerap diabaikan dalam berbagai kajian mengenai manusia. Dalam sosiologi, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu (Barat) lain yang mengkaji manusia, kewujudan jiwa sering kali tak diakui. Manusia dianggap sebagai makhluk material belaka dan tak memiliki sisi batin. Paling tidak, entitas batin manusia sering kali tak jelas kedudukannya dalam sekian ilmu-ilmu tersebut.


Persoalan ini tentu saja telah menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat. Pada satu sisi, Islam menekankan pentingnya jiwa bagi kehidupan manusia, bahkan jiwa dipandang sebagai hakikat manusia. Di sisi lain, kehadiran jiwa yang di akhirat kelak akan mempertanggungjawabkan diri di hadapan Tuhan, seperti tak hadir dalam ilmu-ilmu yang mengkaji manusia. Di tingkat keseharian, keterpecahan pemahaman seperti ini lebih terasa.


Penanggulangan persoalan-persoalan kemanusiaan (kejahatan, penyimpangan, amoralitas, dan lain-lain) justru seringkali mengabaikan pentingnya keberadaan jiwa. Penyelesaian masalah-masalah tersebut kerap berkutat di seputar penataan perangkat hukum, peningkatan penghasilan, dan hal-hal material lain.


Begitu sangat pentingnya jiwa dalam proses pendidikan,  Fakhrudin Ar Razi menjelaskan  dengan panjang lebar tentang kekuatan wahm atau estimasi yang ada di dalam diri manusia.


Menurut beliau, kekuatan tersebut muncul dalam bentuk dua nafsu: kekayaan dan kekuasaan. Kelak, kekuatan tersebut akan melahirkan kesenangan imajinatif atau al-ladzdzat al-khayaliyyah, kesenangan yang tidak akan mengantarkan kepada kebahagiaan hakiki. Karena bersifat wahm, Ar-Razi menyebut kesenangan tersebut sebagai kesenangan yang bersifat syaithaniyyah. 


Apa yang dijelaskan oleh Ar-Razi tentang wahm sangat sesuai dengan konteks bangsa Indonesia, di mana pertarungan politik, korupsi, money politics, dan lain sebagainya semakin merajalela. Orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan dan harta adalah orang-orang yang memiliki watak setan.


pendidikan karakter yang sekarang menjadi isu menarik di dunia pendidikan, apakah kajian tersebut memasukkan juga ajaran tentang hakikat jiwa manusia? 


Padahal,  jiwa adalah unsur asasi dari manusia. Karena tidak memberikan perhatian besar kepada hakikat jiwa manusia, isu-isu yang menjadi tema pendidikan karakter adalah isu-isu sosial yang menjadikan masyarakat dan negara sebagai pusat. Ini yang disebut sebagai framework Barat modern-sekuler.


Kita bisa melihat sekolah contohnya hanya fokus mempersiapkan hukuman tanpa ada upaya bagaimana peserta didik tidak berbuat yang melanggar hukum.  "berbuat" ini berkaitan dengan pengaruh "jiwa". Maka dari itu penting membuat metode penyembuhan jiwa. 


Maka dari itu orang yang ditunjuk menjadi si pembuat kebijakan di dalam instansi pendidikan haruslah orang yang mengerti jiwa.  Fit and proper test calon kepala sekolah dan calon rektor harus difokuskan sejauh mana ia mengerti tentang jiwa manusia.  


Karena kebijakannya berpengaruh pada jiwa peserta didik yang banyak.  Jika jiwa tidak menjadi prioritas instansi pendidikan,  pendidikan hanya akan melahirkan pelaku industri yang jiwa nya kering. 


Hanya melahirkan orang-orang yang mengejar kesuksesan duniawi,  dan ketika itu tercapai tetapi jiwa nya rusak, ia memiliki kuasa untuk merusak.  


Orang yang memikiki banyak uang tapi jiwanya rusak itu bahaya, pulang kerja ia bisa lanjut dugem untuk melepas penat,  ia bisa sewa wanita-wanita tunasusila untuk melepas hasrat,  ia beli minuman keras untuk penghilang lelah 


Apakah seperti itu output pendidikan yang kita harapkan


Disini saya ingin menekankan bahwa perbaikan jiwa sangat penting,  untuk semua elemen yang ada di pendidikan



TerPopuler

close