Kini Pukul :

Cerbung | Mawar Hitam | Episode 6

Cerbung: Mawar Hitam

Oleh: Musaafiroh El Uluum

Kampus digegerkan dengan penemuan mayat oleh dua mahasiswinya. Bagaimana tidak. Kejadian itu tak pernah terjadi di universitas ternama tersebut. Desas-desus dan kasak-kusuk bertebaran. Bunuh dirilah, putus cintalah. Seakan dunia ini terlalu sempit untuk disangkut-pautkan dengan masalah cinta. Kasus itu pun akhirnya meledak hingga terendus juga aromanya oleh masyarakat luar. Sebab, tak maklum jika ada sirine polisi berdengung-dengung masuk ke wilayah kampus. Hal ini menjadikan nama kampus yang selama ini dianak-emaskan menjadi tercemar. Jajaran dewan rektorat tak habis pikir, bagaimana bisa peristiwa seperti ini terjadi di lingkungan mereka, sama sekali tak terlintas dalam benak.

Garis kuning di sana-sini. Para pemburu warta pun enggan kalah mengorek informasi sedapatnya dari para petugas yang bertugas di sekitar TKP maupun saksi mata, termasuk satpam yang terlihat gerogi dikerubung kamera-kamera media yang tak berhenti mencekoki pertanyaan lalu dijawabnya dengan tergagap-gagap sebab baru pertama kali dihadapkan orang banyak. Macam artis baru, batinnya.

Di lain tempat, Santi duduk termenung di atas bangku panjang kantin. Ia dan Dila memilih menghindar setelah dimintai keterangan oleh petugas keamanan dengan seragam mirip anak-anak pramuka. Sembari terus memainkan sedotan di tangannya, ia mengaduk-aduk bongkahan es di dalam gelasnya dengan tatapan kosong. Pikirannya terlihat melayang-layang hingga tak sengaja tangan kirinya bergerak menumpahkan air jeruk di depannya.

“Upss ….”

“Santi, kamu ngelamun terus dari tadi,” tegur Dila sedari tadi memperhatikan sahabatnya yang murung.

Setelah menghabiskan stok tisu yang dikeluarkannya dari tas untuk mengelap meja yang terkena tumpahan es, ia tak lantas menjawab teguran Dila, namun tetap diam seribu bahasa.

Dila pun tak tahan dan mendesak Santi untuk berbicara seraya memanggil namanya berulang-ulang.

“Hem, yah … apa, Dil?” jawab Santi tergeragap. Ternyata gadis itu masih saja bergulat dengan ketermenungannya.

“Lagi mikir apaan, sih?” tanya Dila lembut. Memberi pengertian dan perhatian penuh kepada sahabatnya. Ia tahu, meskipun Santi adalah pecinta film horor, namun kenyataannya dirinyalah yang lebih tahan dengan hal seperti ini. Yah, bagaimana pun juga, fim itu identik dengan bualan dan rekaan, sedangkan kematian yang mengenaskan bisa saja ulah manusia, tetapi hal itu sangat mengerikan bagi mereka yang sensitif dengan hal-hal berbau kematian. Jika kematian tak wajar itu memang disengaja, lantas siapa yang melakukannya? Astaga, pertanyaan itu tak hanya berkeliaran pada pikirannya, akan tetapi serta merta meluncur dari seberang tempat duduknya, sehingga membuat gadis berambut hitam terurai itu membulatkan mata. Santi yang ada di sampingnya pun ikut mengangkat pandangan dan bertabrakan pupilnya dengan iris bening milik pemuda di hadapannya.

Dua gadis itu saling berpandangan. Saling bertanya, namun tak ada suara. Sedangkan pemuda tersebut tak duduk dengan pantat, melainkan menaikkan kedua lututnya ke atas bangku panjang. Mengesankan tingkah anak kecil yang menagih jawaban kepada ibundanya.

“Kenapa ngeliatnya kek gitu?” seloroh laki-laki itu pada dua gadis di depannya yang tak berhenti dari kebengongannya.

“Eh, iya,” katanya sembari menyeringai, “kenalin, namaku Denis,” lanjutnya seraya mengulurkan tangan.

Tangan Dila perlahan terulur dan menyalaminya, begitu juga Santi yang tak berhenti dari keheranan dengan kedatangan pemuda dengan sikap sok akrabnya.

“Hadeh, baru masuk kampus, udah ada kejadian kek gini,” ceriwis cowok berkemeja kotak-kotak itu sembari meletakkan ranselnya di atas meja.

Dari perkataannya, mereka berdua mulai mengerti bahwa pemuda itu adalah anak baru. Logatnya saja, sudah nampak bahwa lelaki berhidung bangir itu berasal dari tanah yang sama dengan Dila. Sejurus saja Dila dan lelaki di hadapannya terlihat asyik dalam pembicaraan santai layaknya kawan lama kembali berjumpa.

Ambo auih.” Terdengar pemuda itu berceletuk, lalu memanggil seorang penjaga kantin untuk memesan segelas es teh.

Sembari menunggu pesanannya, pemuda itu kembali berceloteh dengan Dila. Santi tahu, kebiasaan orang luar pulau jika ketemu orang yang sebangsa dengannya–maksudnya datang dari pulau yang sama–mereka akan girang bukan kepalang. Bak ketiban rembulan, sebab telah dianggap seperti saudara yang telah lama hilang. Tak hanya di luar daerah yang masih satu negara. Bahkan, hal itu akan terjadi di luar negeri.

Di samping Dila, Santi tak henti-hentinya memikirkan kejadian yang ditemuinya tadi pagi. Ia merasa janggal, dan tak lantas percaya begitu saja jika kematian seseorang di taman itu bukan tanpa sebab. Melainkan memang ada yang sengaja melakukannya. Di sisi lain, kerisauan Santi terjeda ketika bola matanya kembali menatap pemuda yang sedang berceriwis dengan sahabatnya. Rautnya biasa saja. Tak ada pancaran menawan, justru penampilan sangar tercetak jelas pada bekas luka di pelipisnya. Akan tetapi ada sesuatu yang memaksanya berpikir keras saat ia kembali menangkap kornea bujang itu dari samping. Pemuda itu merasa bahwa dirinya sedang diawasi, sehingga wajahnya segera berpaling ke arah Santi. Santi pun terkesiap dengan tatapan yang dibalas, namun segera dapat menguasai diri. Segera ia sembunyikan tangannya yang sedikit bergetar ke bawah meja.

“Lah, ini siapa?” tanyanya seraya mengangkat telunjuknya ke Santi.

“Ini Santi,” jawab Dila disambut dengan anggukan oleh pemuda bernama Denis itu.

# # # #

Sepulang dari perkuliahan, Santi tak langsung pulang ke rumah. Ia masih malas dan memilih mampir ke kos, tempat Dila tinggal.

 Sesampainya di kamar, ruangan itu terlihat lengang. Hanya ada dia dan Dila di sana.

“Kamar segede gini muat berapa orang, Dil?” tanya Santi setelah melemparkan badannya ke atas kasur lantai.

“Aku di sini cuma bertiga,” jawab Dila sembari merapikan buku ke tempatnya, “Denis itu asyik juga, ya orangnya,” kelakarnya sambil berjalan ke tempat gantungan pakaian lalu menarik selembar handuk dari sana.

Sementara teman yang diajak bicara hanya berkata, “Hem ....” Sebab sedari di bangku kantin tadi dirinya tak mudeng dengan percakapan Dila dan Denis yang menggunakan dialek Minang.

“Aku ke kamar mandi dulu, ya” pamit Dila. Tanpa menunggu jawaban ia menenteng kotak sabun bergegas keluar ruangan.

Seraya menatap langit-langit, Santi mengambil gawainya lalu menekan tombol play di sana.

Imagine there’s no heaven

It’s easy if you try

No hell bellow us

Above us only sky

Imagine all the people

Living for today ....

Lagu John Lennon menggema, kebebasan memenuh di langit-langit kamar. Rasanya Santi ingin terbang mendengarkan lagu legenda yang seakan tak pernah lekang oleh waktu itu.

Namun, saat sampai pada lirik No religion too, ia mengingat lirik yang menjadi perbincangan dunia, banyak yang menyebut-nyebut bahwa lagu jadul tahun tujuh puluhan itu merupakan ajakan kaum atheis untuk tak memercayai agama dan Tuhan.

Agaknya orang-orang yang berpemikiran dangkal itu tak pernah meneliti sejauh dan sedetail mungkin. Bahwasannya ketika menafsirkan sesuatu itu, tak seharusnya kita membaca setengah-setengah dan menelannya mentah-mentah. Tetapi diperlukan ketelitian lebih untuk memahami makna tersurat maupun tersirat dari awal kalimat hingga akhirnya.

Seyogyanya, dari judul kita sudah dapat menangkap bahwa pencipta lagu hanya ingin kita membayangkan di mana tak ada negara, tak ada agama, tak ada harta benda, yang ada hanya langit sehingga semua orang hidup dalam kedamaian, saling berkasih-kasihan, dan tak pernah membedakan antar ras, golongan, suku, maupun pembeda-beda lainnya. Tak ada kerakusan sebab harta benda dan tak ada rasa kebencian antara umat manusia.

Yah, satu hal yang patut ditanamkan kuat pada hati dan pikiran adalah tidak semena-mena men-judge tanpa adanya bukti yang logis.

You may say I’m a dreamer

But I’m not the only one

I hope someday you join us

Santi semakin terbuai dalam not-not lagu ciptaan Yoko dan John, seakan mengarungi tangga-tangga kedamaian.

And the world will live as one

Lamat-lamat nada gawainya masih nyaring di telinga, namun seketika suara itu menghilang. Berganti dengan suara berisik di sekelilingnya. Ia terduduk dan mendapati dirinya tak lagi di sebuah ruangan, akan tetapi di tempat lain. Entah apa namanya, yang jelas tak ada cahaya. Ia pun bangkit lalu melangkah, menimbulkan bunyian, di kakinya penuh dengan ranggasan kering. Rasanya, ia pernah berada di tempat ini. Tetapi tak ingat kapan dirinya pernah ke sini. Pandangannya berpendar. Angin mengembus ringan menyerbu tengkuk, membuat rambut-rambut halus di sana bergidik.

Terdengar seseorang memanggilnya, ia membelokkan kepala. Tak ada siapa-siapa. Lalu, melangkah lagi ke depan. Namanya dipanggil untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih nyaring. Ia pun berhenti dan membalikkan badan. Masih sama. Hanya gelap yang ditangkap penglihatannya.

“Siapa?” tanyanya hati-hati sembari menggerakkan kaki mendekati sumber suara.

“Sa ... nti ... San ... San ... ti ....” Suara-suara itu semakin melengking, merubungnya hingga seolah-olah gendang telinganya terasa ingin pecah.

“Arrrggghhh ....” Gadis itu tak tahan lagi, namun tubuhnya seakan dikunci. Tak kuasa melarikan diri. Ia hanya bisa menyumpal lubang telinganya dengan kedua belah tangan rapat-rapat dan memejamkan mata sebisanya

Mendadak ia dihujani ribuan benda ringan. Gerakan udara berubah mencekam, menerbangkan rambutnya yang tak lagi terkuncir epik, dan bau kematian serasa mengitari. Ia memberanikan diri membuka netra dan melihat apa yang sedang dilempar-lemparkan ke arahnya. Napasnya mulai menggebu dan wajahnya terasa kaku. Mawar-mawar itu yang kerap mendatangi bunga tidurnya. Kelopak-kelopak mengerikan itu tak habisnya menghantam seluruh badan serta kepalanya. Meski tak sakit, namun ketakutan terus berkembang dalam jiwanya.

Huwaaa .... Sebuah teriakan memekik dari arah yang tak begitu jauh dengannya berdiri. Pekikan nelangsa itu seperti suara seorang perempuan. Lalu diiringi tangisan lirih seperti orang kehilangan sesuatu berharga.

Ia memutuskan untuk mencarinya setelah sedikit terkesiap bahwa kakinya sudah dapat digerakkan, dan kelopak-kelopak mengerikan itu tak lagi terlihat di sekelilingnya.

“Huhu ... hiks ....” Tangisan itu semakin jelas, ia merasa bahwa dirinya kian dekat dengan orang itu.

Ternyata tempat di mana ia berjalan, terlalu rimbun dengan sesemakan belukar. Sehingga bunyi-bunyian ranting kering yang hancur sedikit membikin berisik. Nampaknya gadis itu sudah tak peduli dengan sikap hati-hati. Sebab ia terkesima dengan suasana areanya berjalan. Langit sedikit menunjukkan kecerahannya, pepohonan beringin yang menjulang, kamboja, dan kenanga. Bunganya berserakan di atas tanah. Selangkah kemudian ia tahu bahwa ia sedang berada di tanah pemakaman.

Gadis itu mengangkat pandangan ketika matanya menangkap jajaran nisan di antara kelopak-kelopak yang berserakan, dan mendapati seseorang sedang berjongkok di atas pusara memberikan sebuah persembahan. Hah ... Santi tercengang. Mawar hitam lagi?

# # # #

Hujan telah reda beberapa menit yang lalu, namun dinginnya malam tetap mengusik. Apalagi jika perut dalam keadaan kosong begini, “Enaknya nyari yang anget-anget, nih,” celetuk seseorang dari pojok ruangan.

“Hayukk …,” sahut gadis berpipi gembul yang terus memegangi perutnya.

Di kamar kos itu, Dila hanya tinggal bertiga dengan teman-temannya. Mereka juga anak-anak perantauan. Satu dari Kalimantan, satu lagi dari Jawa. Ia sangat senang berkawan dengan mereka, sebab adat, tradisi, bahasa sekaligus ilmu baru didapatkan percuma-cuma tanpa mendatangi tempatnya secara langsung.

Tanpa ba-bi-bu, ketiganya telah bersiap di teras untuk menyusuri kedinginan malam. Dibilang sunyi, tidak. Sebab, gemericik air dari loteng-loteng rumah bertempa dengan apapun di bawahnya. Jalan, dedaunan, air menggenang, menambah pencitraan di malam yang syahdu.

Jam masih menunjukkan pukul sembilan, artinya pedagang-pedagang asongan di perempatan sana belum pada pulang. Ketiga gadis itu langsung menembus kedinginan demi menuruti lambung yang lama berteriak meminta jatah.

Akhirnya, setelah beberapa bungkus plastik yang penuh kepulan asap dan aroma sedap telah aman berlindung dalam genggaman, segera langkah mereka berbalik halauan ke tempat kos. Gerobak-gerobak dan kedai yang terlampau laris pun telah merapikan dagangannya untuk berlekas-lekas pulang ke rumah. Membawa segenggam gembira akan hasil jerih payahnya seharian. Sementara masih ada beberapa cuil harapan pada rona-rona penjual yang senantiasa menunggu, barangkali ada di antara pejalan kaki atau kendaraan beroda berhenti di depan lapaknya dan menghabiskan potongan-potongan yang menjadi tumpuan harapnya. Ada juga mata-mata sayu yang berharap ada setengah wajah menengok barang dagangan mereka yang sejak sore bahkan pagi sama sekali belum terjamah. Rasanya benar-benar sulit mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Ternyata tak semudah itu yang namanya bekerja keras. Terkadang keringat yang diperas tak sebanding dengan apa yang didapatkan dan diinginkan. Itu pun masih saja ada orang yang meremehkan keberadaan orang-orang seperti mereka di dunia ini. Kebanyakan mereka hanya dimanfaatkan tanpa penghargaan semestinya. Dikuras tenaganya tanpa dihargai usahanya. Bahkan, oleh anak mereka sendiri. Maunya ini itu, jika tak dituruti mengancam bunuh diri, mogok makan, bisa-bisa kabur dari rumah. Dunia memang sudah tak wajar. Ibarat peribahasa Jawa ‘anak polah bapak kepradhah’, orang tua kalangkabut akibat perbuatan anaknya.

Kalbu Dila sedikit tergugah, ia ingat perjuangan ibunya menghidupi dirinya dan adik-adiknya. Sendirian. Walaupun satu dari saudaranya ternyata mendahului usia mereka, namun ibunya tak patah semangat menghidupi buah hatinya hingga akhirnya perempuan perkasa itu menyusul adik bungsunya menemui kedamaian abadi di sisi Tuhan. Mata gadis itu sedikit berair, ada sesuatu yang membuat tenggorokannya panas kala memoar kembali terlintas di ingatannya.

“Yaudah, yuk Dil pulang.” Seseorang menggaet pergelangan tangannya, lalu dengan anggukan pelan ia mengiyakan ajakan temannya setelah punggung tangan langsat itu mengusap setetes air di pipinya.

Tangan-tangan ketiganya terlihat mengeratkan balutan hangat di tubuh masing-masing. Agaknya hawa memang sedang tak bersahabat. Beberapa helaian rambut pun berterbangan seiring tiupan angin yang mendesau. Brrr .... dingin merangsum pada tulang-tulang kaki, leher serta wajah, hingga mereka memutuskan untuk berlari-lari kecil agar cepat sampai tujuan.

Jalan itu antara utara dan selatan tak terlihat ujungnya. Setelah perempatan di ujung sana, lalu ke selatan beberapa langkah, akan ada satu belokan mencolok, yakni jalan menuju kampus yang terhubung dengan taman belakang. Bukan ke kelokan itu Dila dan kawan-kawan akan berjalan, namun justru lurus. Itu artinya, mereka bertiga harus melewati jalan tersebut.

Dila sengaja berpelan-pelan saat berjalan, sebab baginya jalan cepat akan membuat dirinya semakin merasakan kedinginan luar biasa akibat angin musim hujan. Nah, salah satu cara yang berbeda dari yang lainnya justru berjalan lebih pelan dari biasanya. Hemm, aneh memang. Tetapi itulah nyatanya.

Sementara kedua temannya telah melangkah lebih dahulu, dirinya masih tertinggal lumayan jauh. “Hiks ....” Sebuah suara menyurutkan langkahnya. “Hiks .....” Lagi. Detak jantungnya perlahan naik turun, rasa-rasanya sangat dekat.

“Maaf, ya Vi ....” Kini suara seorang laki-laki yang tertangkap pendengarannya. Ia pun menengokkan kepalanya. Bingo. Netranya membulat, ternyata dua orang yang selama ini ia kepoin benar-benar berada di depan matanya.

Bersambung ....