BREAKING NEWS
HUT RI 2026 KONSULTASI ADVOKAT IKLAN JIBRIL 2026 HUT RI 2023 VNNCOID

Trump Lempar Senjata Makan Tuan, Warga AS Tercekik Harga BBM Tinggi


VNN.CO.ID,WASHINGTON—Kebijakan dan strategi politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi persoalan energi kini menghadapi tantangan serius. Harga bahan bakar yang terus meningkat justru menekan rumah tangga Amerika Serikat, di tengah upaya pemerintahan Trump menjanjikan energi yang lebih murah kepada masyarakat.

Lonjakan harga tersebut terjadi ketika harga minyak dunia kembali berada di atas US$100 per barel. Pada Jumat (11/9/2026), harga Brent berada di kisaran US$104 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$99,5 per barel. Kenaikan harga minyak tersebut dipengaruhi kekhawatiran gangguan pasokan global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan paling terasa pada sektor diesel. Harga rata-rata diesel di Amerika Serikat telah menembus sekitar US$6,05 per galon dan mencapai rekor baru. Kondisi ini menjadi persoalan serius karena diesel merupakan bahan bakar utama bagi sektor transportasi, distribusi barang, pertanian, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Dampaknya tidak berhenti di SPBU. Kenaikan biaya bahan bakar berpotensi merembet ke biaya angkutan, distribusi, hingga harga barang yang dibeli masyarakat. Produk kebutuhan sehari-hari, terutama barang yang membutuhkan transportasi intensif, menghadapi tekanan biaya yang semakin besar.

Inflasi Kembali Menghantui

Data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan tersebut mulai tercermin dalam inflasi Amerika Serikat. Inflasi konsumen pada Agustus 2026 tercatat 3,4 persen secara tahunan, sementara secara bulanan meningkat 0,4 persen dibandingkan Juli. Kenaikan harga bensin menjadi salah satu pendorong utama peningkatan inflasi bulanan tersebut.

Harga rata-rata bensin nasional juga telah meningkat tajam. Reuters melaporkan harga bensin rata-rata pada Agustus mencapai sekitar US$4,192 per galon, naik dari US$4,064 pada Juli. Sementara itu, laporan lain mencatat harga bensin nasional pada awal September berada di kisaran US$4,27 per galon.

Situasi tersebut menjadi ironi politik bagi Trump. Presiden AS sebelumnya berulang kali menjadikan energi murah sebagai bagian penting dari agenda ekonominya. Namun, realitas di lapangan menunjukkan konsumen Amerika justru menghadapi biaya bahan bakar yang semakin berat.

Trump sendiri menyatakan harga minyak kemungkinan baru akan turun setelah pemilu sela atau midterm election Amerika Serikat. Ia bahkan memprediksi harga minyak akan jatuh dan harga bensin dapat turun hingga di bawah US$2 per galon setelah pemilu tersebut.

Janji Energi Murah Diuji Realitas

Kondisi ini membuat persoalan energi berubah menjadi ujian politik bagi pemerintahan Trump. Ketika harga bahan bakar naik, dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui biaya perjalanan dan kebutuhan sehari-hari, sementara dunia usaha menghadapi peningkatan biaya logistik.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak tidak semata-mata dapat dikaitkan dengan satu kebijakan pemerintah. Gangguan pasokan global, konflik di Timur Tengah, serangan terhadap fasilitas energi dan kilang, serta ketidakpastian jalur perdagangan minyak turut menjadi faktor penting yang mendorong harga energi dunia.

Namun, bagi masyarakat Amerika, persoalannya sederhana: harga di pompa bensin naik, biaya hidup ikut tertekan.

Situasi tersebut berpotensi menjadi persoalan politik yang semakin sensitif menjelang pemilu sela AS. Ketika pemerintahan menjanjikan energi murah tetapi masyarakat menghadapi rekor harga diesel dan kenaikan bensin, kebijakan energi Trump akan semakin diuji bukan hanya melalui angka produksi minyak, tetapi melalui kemampuan pemerintah menjaga daya beli masyarakat.

Dengan kata lain, strategi energi yang diharapkan menjadi senjata politik Trump justru berisiko menjadi “senjata makan tuan” apabila tekanan harga bahan bakar terus berlanjut dan beban biaya hidup semakin dirasakan masyarakat Amerika.


Mansur/Red

close