Kini Pukul :

Mengenal Citarasa Kopi Ontel Khas Gunung Lendong Produksi PT Giri Tanjungsari Bogor Timur

 

Ramdhan Hasby, Reporter Vnn.co.id saat bersama Owner dan Dirut Pemasaran Kopi Ontel PT Giri Tanjungsari Bogor Timur, Kamis (28/1/21).

Vnn.co.id, Bogor - Kunjungan Vnn.co.id ke Bukit Lendong yang terletak di Kampung Babakan Ngantay, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, selain mengobati rasa penasaran terhadap destinasi yang masyhur akan kepermaian, sekaligus mengulik tentang PT Giri Tanjungsari yang terkenal dengan Kopi Ontelnya.

Untuk itu, Ramdhan Hasby sebagai Reporter Vnn.co.id mengajak Owner serta Dirut Pemasaran Kopi Ontel PT Giri Tanjungsari untuk berbincang melalui kongkow santai bareng Vnn.co.id pada Kamis (28/1/21).

Sebagaimana dikatakan oleh Didi Rosidi, Owner Kopi Ontel, dengan melihat potensi Tanjungsari yang memiliki lahan seluas 450 hektar, jika dilihat dari 2 kecamatan, maka akan terhitung sekitar 2000 hektar. Alangkah ruginya jika tidak diberdayakan. Maka dari itu, didirikanlah perusahaan yang dinamai PT Giri Tanjungsari dengan produksi berupa Kopi Ontel.

Kang Didi, panggilan akrabnya, menjelaskan tahapan-tahapan dari Kopi Ontel berawal dari pemetikan ceri kopi, di mana pada proses pemetikan tersebut akan menghasilkan kualitas aroma dan rasa yang berbeda.

Selanjutnya, ada tahap fermentasi, ada juga setelah petik ceri langsung dijemur, digiling dan masuk ke tahap packaging.

Kopi Ontel yang beken dengan rasa yang khas dan cara memperoleh (biji kopi) yang berbeda, yaitu bukan dengan jalan membeli tetapi langsung dari masyarakat petani Tanjungsari tersebut diharapkan menjadi nilai tambah bagi penghasilan warga Tanjungsari.

Lalu untuk pemasaran, Dirut Pemasaran PT Tanjungsari Diat Suhendi menuturkan, pihaknya menggunakan pola bagaimana agar Kopi Ontel yang dahulunya dikenal dengan dengan Kopi Lendong itu bisa diniknmati oleh banyak orang. Sehingga ia dan tim melakukan inovasi dengan menjadikan kopi-kopi tersebut dalam bentuk sachet, di antaranya berupa kopi murni dan kopi plus gula.


Ketika ditanya apa tantangan terbesarnya saat masa pandemi, Kang Diat mengatakan bahwa pandemi bukanlah halangan, justru hal itu menjadi pendobrak semangat untuk memutuskan membentuk suatu perusahaan yang mengolah hasil petani di Desa Tanjungsari tersebut.

Ditanya harapan, Kang Didi menyatakan harapannya yang kebetulan Achmad Fathoni selaku Anggota DPRD Kabupaten Bogor turut hadir di sana. Kang Didi menerangkan bahwa selain pengolahan kopi itu sebagai tambahan penghasilan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tanjungsari, kebutuhan lainnya ialah benih dan pupuk.

Sehingga ada istilah ngijon ke tengkulak-tengkulak, maka dari itu ia mengutarakan harapan agar Dewan Achmad Fathoni dapat mendorong untuk meniadakan istilah yang berkembang pada petani-petani kopi. Selain itu, menurutnya, kesulitan pupuk menjadi keresahan para petani. Jadi, harapannya jika pemerintah kesusahan menyalurkan bantuan pupuk dengan alasan akses, maka ia memberikan saran serta harapan agar pupuk yang disalurkan cukup berupa organik cair yang cenderung lebih mudah dibawa daripada dalam bentuk karungan.

Rep: Ramdhan Hasby

Red: Mega