Kini Pukul :

Cerbung | Mawar Hitam | Episode 3

 


Cerbung: Mawar Hitam

Oleh: Musaafiroh El Uluum

Di kampus ...

    Matahari telah merangkak semakin jauh dari peraduannya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh tepat. Artinya, tiga puluh menit lagi kelas perkuliahan akan dimulai. Desau angin meniup ringan pepohonan cermai, menerbangkan daun-daun di atas rerumputan. Syahdu. Menari-nari bak daun maple di balik gerbang mohabbatein. Belum lagi kaki lincah milikku memasuki gerbang universitas, sudah terpana saja dua pasang mata ini pada suasana halaman yang nampak seperti kisah cinta perfilman India. Ah, sedang berpikir apa aku ini. Kukedipkan mata seraya menggeleng pelan, memulihkan kesadaran yang ngelantur ke mana-mana. Seutas senyum menyambutku di seberang sana. Aku mengangguk menjawab lambaian tangannya. Tanpa pikir panjang dan melihat sekeliling, kularikan langkahku menyisir gerbang tinggi yang berdiri angkuh di depan kampus.

“Tin ... tin ....” Sebuah alphard merah menyongsong langkahku yang hampir melewati besi tua berpoles itu. Terpergap karena bunyi klakson yang tiba-tiba menghadang. Tanpa banyak cakap mobil itu menyerobot begitu saja, mendahuluiku untuk masuk gerbang.

“Woyy ... punya mata gak, sih!” cetus seorang perempuan setelah menurunkan kaca mobil miliknya. Dengan lirikan tajam ia melajukan otonya ke halaman kampus. Kuembuskan napas kasar seraya melanjutkan langkah dengan geram. Agak dongkol diperlakukan seperti itu oleh orang yang sama sekali tak kukenali.

    Gara-gara kelakuan orang itu, wajah yang tadinya secerah mentari kini mendung, mengerucut seperti capil pak tani.

“Yah, sabar aja, lah. Mungkin emang aku yang salah,” gumamku dalam hati. Dengan segenap jiwa dan raga kukembalikan senyum yang tadi sempat hilang di hadapan sahabatku. Setengah berlari aku menghampirinya. Membayar rindu dengan pelukan hangat.

“Hay ...,” tegurku pada Dila yang telah lebih dahulu menunggu. Ia tersenyum sembari berucap, “Apa kabar?” Ya, maklumlah setelah libur semester selama 2 bulan, kami tak pernah berjumpa maupun bertegur sapa karena jarak rumah yang jauh. Beda provinsi. Walau untuk kuliah di tempat idamannya, ia harus indekos di sekitar kampus. Waktu liburan pasti dimanfaatkannya untuk pulang ke kampung halamannya. Sekadar melepas rindu bersama keluarga yang ia sayangi.

    Ia adalah gadis yang cantik dan ramah. Tak pernah sekali pun aku kehilangan ukiran indah dari wajahnya. Namun semenjak ditinggal ibunya, senyuman yang selalu memancar itu seakan pudar. Beberapa bulan ia sempat stres karena kepergian wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya. Dia mengatakan kalau matinya tidak wajar. Itulah yang menyebabkan dirinya kehilangan jiwa dan kesadaran di alam nyata. Berminggu-minggu, berkemelut dengan kenangan masa kecil, masa-masa yang tak pernah ingin ia akhiri. Sekarang, tinggal nenek dan adik lelaki yang ada di rumah. Ayahnya? Jangan ditanya lagi. Muak ia mendengar namanya saja. Apalagi menceritakan kisah hidup yang suka foya-foya dan main wanita. Menangis ia, semakin meraung-raung saat aku mengatakan bahwa seburuk apapun, ayah tetaplah orang tuanya. Dan tak boleh dibenci. Membuatku ingin selalu mememeluk dan menguatkannya agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sejak saat itu, aku tak pernah menanyakan perihal ayah kepadanya.

“Eh ... kok bengong, sih?” Dila menepuk pundakku. Sadar bahwa dari tadi aku tak fokus diajaknya bicara.

“Hehe ....” Aku tertawa kecil seraya menggaruk tengkuk yang tak gatal.

“Tanya apa tadi?”

“Kamu gimana kabarnya?” katanya lagi dengan penekanan di setiap katanya.

“Oh ....” Diriku malah meng-oh-kan saja.

“Kok oh, kamu kenapa, sih ...,” tanyanya lagi sebelum aku menjawab pertanyaan yang pertama.

“Soal cewek tadi, ya?” “Emang tuh orang ya, sombong banget. Pengen gue tonjok aja mukanya.” Aku tersenyum melihat ekspresi lucunya ketika sedang sebal.

“Siapa, sih dia?” tanyaku kala penasaran menyelinap.

“Dia anak hukum, kelasnya di sebelah ruangan kita. Pintar, sih ... tapi gayanya yang belagu itu, lho ... bikin aku pengen nendang aja, tuh orang.” Berbusa-busa Dila nyerocos tentang kekesalannya. Membuat pipinya yang chubby terlihat memerah dan bergerak-gerak.

“Ha ... ha .... ha ....” Aku hanya bisa tergelak melihat tingkahnya.

“Santi!!!” Agaknya aku membuat dirinya semakin gemas.

“Orang lagi kesel kok malah diketawain!”

“Iya iya ... udahan, yah ... kamu lucu kalo lagi kesel, hihihi.”

    Beginilah dua sahabat yang baru bertemu, satu menyabari satu mengusili. Terkadang kau temukan bahagiamu pada seseorang yang sebelumnya tak pernah mengenalmu, tetapi ia sangat memahamimu

# # # #

    Pagi begitu cerah oleh shyam di timur sana. Intensitas cahayanya silaukan mata dunia. Sesilau itu kacamata hitam elegan, bertengger manis membingkai mata elang milik gadis muda yang bersembunyi di baliknya. Masih pagi benar dia sudah berpakaian necis dengan dress merah rose selutut. Lengan ¾-nya memperlihatkan ukuran diameter yang ramping. Mendayung-dayung santai saat berjalan. Istilah Jawanya, “Mblarak sempal”. Kakinya yang jenjang berkulit kuning langsat asik menjinjit di atas sepatu ber-hak setinggi 5 cm. Tahulah jikalau ditinjau dari pangkal rambut hingga ujung kaki ia adalah wanita berkelas. Semua serba branded. Belum lagi aksesoris yang dikenakannya, mulai anting acrylic nomor 1 standar Perancis, jam tangan, gelang, sampai tas jinjing bermerk Gucci yang diapit bahu rampainya. Mengundang bola-bola mata memutar cepat dan tanggap.

    Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan 10 km/jam. Menerabas jalanan raya yang masih sepi kendaraan. Agaknya cuaca tak bersahabat. Jendela yang semula membiarkan angin menembus bagian dalam mobil, kini perlahan bergerak membungkam suaranya yang ricuh, karena diprediksikan sebentar lagi hujan lebat. Terlihat mega kelabu berarak ke arah barat. Meredupkan sinar cerah Sang surya. Bukan mall tujuan gadis itu, atau kantor tempat bekerja. Namun belokan jalan sempit dan sepi. Untungnya, mobil se-ukurannya bisa masuk dengan selamat dan aman tanpa goresan. Tak banyak rumah penduduk di sana. Apalagi rumah bertembok, kesemuanya merupakan bangunan kayu dan triplek yang mungkin akan roboh jika ditanduk babi hutan. Ban oto merah itu terus menggelinding, lewati pematangan sawah yang mengering dan nampak tak terawat. Sampai ujung gang, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah gedhek yang sangat sederhana.  Dari luar, anyaman bambu itu terlihat mencuat dari jalur kerangka semestinya. Warna catnya pun lusuh dan mengelupas sana-sini. Tak dipungkiri kekokohannya yang dimakan usia, tetap bertahan meski belukar-belukar telah melilit sebagian tubuhnya yang penuh bintik-bintik jamur.

    Di dalam baja beroda empat, yang memiliki kilau warna kuat, seseorang sedang duduk di atas jok mobil dengan perasaan gundah. Menatap nanar pada rumah tua di sampingnya. Wajah resah itu didukung dengan dahi yang membentuk banyak lipatan ke dalam. Kerlingan mata yang tak biasa, berkali-kali mengedip menahan rasa yang membuncah di dalam dada. Entah apa yang sedang dipikirkan orang itu, sehingga kacamata yang sedari tadi menggantung pada jemarinya ikut bergetar merasakan gulana yang mendesah. Seketika ingatannya kembali ke scene beberapa hari lalu. Saat dirinya sudah lama tak mengunjungi rumah itu ....

# # # #

    Rembulan malam 15 bercahaya dengan lingkar sempurna. Berpijar memancarkan kehangatan pada lintang-lintang yang menikmati temaram. Walaupun ia masih tersenyum pada dunia, agaknya tak mengubah pendirian langit. Hitam tetap sama, warna yang selalu dikesankan pada malam, dan mata-mata yang terlenakan oleh kenyamanan menatapnya. Ringan, damai nan tenang. Terlelap dalam buaian kasih lindap. Insecta bersayap tipis mengerik berisik di balik sesemakan. Bersenandung ria, saling beradu suara, menarik perhatian betina, bergulat dengan desau angin yang mendingin. Tak ada yang berhak menghalangi ocehan mereka. Karena memang sudah tugasnya mengercikkan takdir. Meneriakkan takbir di sela dengkuran selimuti nyenyak ketertawanan. Hingga berhenti ketika sebuah suara atau pergerakan mendekat, kemudian berbunyi lagi. Berhenti lagi mendapati berat langkah kaki menapaki bumi. Terdengar menyaring lagi dan mendadak sunyi oleh dorongan angin dari hentakan sepatu besar milik seorang lelaki muda.

    Malam semakin lindap, Sang Dewi tetap kuat menyorot seisi bumi. Namun, tidak dengan mata pemuda yang tengah berjalan sempoyongan pada jalan setapak yang sepi kehidupan. Sesekali dirinya terjatuh karena tersandung bebatuan yang mencuat dari tanah yang ia lewati. Bangun jatuh lagi, tak sanggup menahan bebannya sendiri. Ia mengerang, tak jelas apa yang dikatakan. Penampilannya berantakan. Kaos oblong putih dibalut jaket levis biru dengan semburan putih di bagian sikunya yang digulung. Benang-benang menyembul dari robekan yang memenuhi lututnya, dan kalung rantai melingkar di leher menambah kesan korak yang dalam. Sembari tertatih-tatih melangkah, tangannya tak berhenti mengacak-acak anak rambut yang cocok disebut jambul-sebab ia terlau kering, kusut, dan kaku. Ketidaksadaran bergelayut pada kelopak mata yang menghitam, berat. Seketika ia jatuh tersungkur akibat kerikil yang tanpa permisi menyeruduk jempol kaki perjaka yang baru dewasa itu.

Bismillaahirrahmaanirrahiim ...

    Pemuda itu terlihat memaku, menunduk dalam mendengar sebuah nama dilantunkan. Iya, nama yang sangat istimewa. Tertata indah pada lafadz-Nya. Kalam itu selalu merdu menghambur dari toak mushola setiap subuh menjelang. Rasanya telah lama ia tak mendengar lantunan suci Alquran. Telah lama pula ia tak menengok hati yang selama ini memendam kerinduan mendalam. Rindu yang teramat pada Tuhannya. Oh, Tuhan. Lirihnya sunyi. Perlahan cairan hangat meleleh ke hidung bangirnya. Ia tak tahu. Apa yang membuatnya menangis. Apakah rindu yang telah menjadikannya seperti ini? Ataukah rasa bersalah yang tak berkesudahan karena sekian lama tak pernah menjenguk Tuhan yang selama ini bersemayam dalam lubuknya?

    Ia pun berusaha bangkit, berdiri dari posisinya hendak melanjutkan langkah yang sempat tertahan. Punggung tangan yang berkeringat itu mengusap air yang membasahi pipinya. Ia merasa seakan menjadi anak kecil yang cengeng. Merengek pada ibunya agar digendong. Namun apalah daya, tak dapat kering sebab air itu terus saja mengalir.

    Dengan mata masih meremang, ia berjalan lagi dengan kondisi yang belum stabil. Terhuyung dan tak luput dari tersungkur. Menyusuri keheningan subuh yang baru akan dikumandangkan. Hingga dirinya tiba di sebuah rumah kecil dengan pendar lampu minim. Ingin dirinya masuk dan segera merebahkan tubuh di atas kasur. Nihil, pintu itu terkunci, sedang nyamuk-nyamuk telah menggigit sana-sini. Dengan lemah tangannya mengepal, mengetuk pintu tanpa daya. Sehingga yang berbunyi bukan ketukan yang seharusnya tuk-tuk, akan tetapi getokan beritme panjang.

“Dok ... dok ... dok ....”

Dari dalam terdengar slot kunci yang dibuka, ‘klek’. Menampilkan wajah tua yang resah, antara amarah yang membuncah dan khawatir yang mengalir pada pembuluh darahnya.

“Adi!” pekik seorang lelaki dari balik pintu. Pemuda itu tetap melangkah menuju ruang tengah dan terlihat tak peduli.

“Kamu mabok, Nak?” tegurnya lagi sembari memegang kedua bahu pemuda itu untuk dihadapkan padanya. Dari cara memanggil, telah nampak bahwa pemuda itu adalah anak dari lelaki yang kini menatapnya nanar. Tak habis pikir ia dengan anak bongkotnya.

“Ahhh ...,” elaknya menyingkirkan tangan lelaki di hadapannya sebab merasa langkahnya kini dihalang-halangi.

“Adi!!!” Laki-laki paruh baya itu menegaskan bicaranya. “Kenapa kamu jadi seperti ini? Mau jadi apa kamu, hah?” Agaknya emosi pria itu memuncak. Hal itu diperlihatkan pada intonasi tekanan tiap kata yang keluar. Sampai-sampai kumis tebalnya ikut bergetar bersamaan amarah yang meletup-letup.

Pemuda yang gontai menuju kamarnya itu menghentikan langkah dengan tatapan kosong. Raut wajahnya beringsut menyungut, dan alis tebal mulai menyatu. Matanya seperti menemukan kilatan cahaya yang nyalang. Sejurus kemudian, ia membalikkan badan mengadu tatap seraya berucap, “Lalu kenapa? Apa itu urusan bapak?” Rahangnya menegang menahan kekecewaan mendalam. Kata-katanya berhasil menghujam ulu hati menjelma kobaran yang berapi, membuyarkan emosi yang sedari tadi tergumam lirih.

Bersambung ....