Kini Pukul :

Petani Desa Karang Mukti Menjerit Terkena Hama, Kadis Diduga Sibuk "Ngurus" Fee 5 Persen

Pesawahan di Desa Karang Mukti, Kecamatan Karang Bahagia - Kabupaten Bekasi. 
Vnn.co.id, Kabupaten Bekasi - Sibuk ngurusi fee yang diduga minta 5 persen yang sedang hangat dalam pemberitaan dari setiap tanda tangan berita acara atau BA kegiatan proyek pada Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga dari para kontraktor yang ingin mencairkan tagihannya, Nani Suwarni yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, lupa memperhatikan nasib para petani yang ada di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Pasalnya, para petani yang ada di Blok 3 Desa Karang Mukti Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, setelah dilanda kekeringan akibat kemarau panjang, kini para petani kembali harus menjerit, karena mengalami kerugian akibat tanaman padi yang baru berbuah diserang hama tikus dan burung.

Kepada Vnn.co.id, salah satu petani Endong mengatakan, dirinya sudah kebingungan mengatasi hama tikus dan burung piit yang menyerang padi di sawah, sehingga solusinya untuk mengusir burung dengan cara menggunakan bahan peledak berupa petasan meski cara itu masih kurang efektif.

“Meski kurang efektif terpaksa harus pake petasan karena ngak mungkin juga kita setiap jam nungguin sawah, kan harus nyari nafkah sehari-hari juga buat anak istri dirumah. Pake petasan juga menambah biaya,” keluhnya, Rabu (18/9/2019).

Selain petasan sambung Endong, bisa juga dengan menggunakan aliran listrik itu salah satu cara yang paling efektif karena bisa ratusan tikus dalam semalam yang tersengat. Tapi, cara itu sangat berbahaya kalau tidak ditungguin bisa menyegat orang lain yang tidak tahu dan akan menimbulkan masalah baru.

“Kalau dengan cara menggunakan aliran listrik memang paling efektif untuk mengusir tikus, tapi kalau ngak kita tungguin, bisa menyengat orang lain ujungnya bisa masuk penjara kita. Itu namanya menyelesaikan masalah tapi bisa menimbulkan masalah baru,” ungkapnya.

Dijelaskan Endong, kalau tanaman padi sudah kena hama tikus saat masa panen paling hanya mendapat 3 sampai 4 kuintal padi dari setiap petaknya. Normalnya, kalau tidak diserang hama per 2000 meter itu bisa menghasilkan 1,7 ton.

“Kalau terus menerus seperti ini kita rugi jangankan keuntungan modal bekas tanamnya ngak bakalan kembali,” tuturnya.

Lebih lanjut kata Endong, selain tanaman padi miliknya masih ada sekitar 100 hektar tanaman padi milik para petani yang lain juga di serang hama tikus dan burung piit. Selama ini, dari pihak Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui PPL Pertanian cuma memberikan solusi menggali lubang tikus setiap hari jumat disetiap minggunya.

“Tapi kan cara itu belum efektif karena ini hama tikus yang nyerang taneman padi bukan seratus dua ratus ekor, tapi ribuan ekor. Nah, untuk hama burung piit sampe hari ini belum ada solusi dari pemerintah,” katanya.

Endong pun berharap, kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pertanian agar memberikan perhatian serius kepada nasib para petani baik perhatian berebentuk bantuan alat maupun solusi  untuk mengusir hama tikus dan burung piit.

“Agar kami para petani di Kabupaten Bekasi ini, tidak terus menerus harus menanggung kerugian. Kami mohon ada perhatian dari pemerintah setempat,”tandasnya

Sementara itu Kepala Desa Karang Mukti, Sumardi saat di konfirmasi melalui pesan WhatsApp mengatakan cukup prihatin dan sedih, Hal itu juga sudah di sampaikan kepada Pihak Kecamatan.ucapnya singkat.


Rep : Ahim
Red : JF

No comments