Kini Pukul :

Hakim MK Juga Manusia, Ketua MK Ada Yang Di Vonis Hukuman Penjara Seumur Hidup, Ini Ceritanya.

Vnn.co.id, Bandung — Azan menandakan masuknya waktu salat zuhur berkumandang di Masjid Al Muslih Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/10). Tampak dari kejauhan narapidana dan pengunjung lapas bergegas menuju tempat ibadah umat Islam itu.

Terlihat salah dari puluhan orang itu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Akil Mochtar. Dengan menenteng sajadah kecil ia mengambil saf salat terdepan.

Diambil dari artikel Kumparan.com
Usai salat berjemaah, (Kru kumparan.com) mencoba menyapa pria yang mendapatkan vonis penjara seumur hidup di kasus korupsi itu.

"Bagaimana kabarnya, Pak Akil?" kata kami membuka percakapan.

"Alhamdulillah sehat," jawab Akil sembari menyambut jabat tangan.
Perbincangan kami dengan Akil Mochtar pun dimulai. Akil secara terbuka berbagi cerita tentang rutinitasnya di Lapas Sukamiskin itu mulai sejak bangun pagi sekitar pukul 04.00 WIB.

"Yang rutin itu salat Subuh, Subuh itu ke masjid. Selesai Subuh itu, sini ada komunitas selesai subuh itu ada kuliah atau ceramah yang diberikan oleh Pak Luthfi di masjid secara terus menerus, nah jadi bisa ngikut itu sampai pukul 07.00 WIB," ungkapnya.

Akil kemudian melakukan olah raga pagi dengan jalan kaki sekitar 2 jam mengelilingi kompleks di blok tahanan. Menurutnya, di usianya sekarang menjaga kebugaran tubuh merupakan hal yang sifatnya wajib dilakukan.

Seperti biasa, kata dia, jika mendapat kunjungan ia langsung menemui tamunya. Namun, jika tidak, Akil akan menuju salah satu ruangan di Lapas Sukamiskin yang difungsikan sebagai ruang redaksi majalah lapas berjuluk Atrium. Sekadar membaca atau menulis artikel akan ia lakukan untuk mengisi waktu.

"Kalau misalnya tidak ada ya bisa kegiatan lain, baca buku dan aktivitas kita di sini kan punya majalah Atrium yang kita terbitkan, sebulan sekali," kata Akil.

Ia pun kemudian menunjukkan hasil karyanya bersama teman-temannya di Lapas Sukamiskin. Layaknya majalah profesional, majalah Atrium itu dikemas menarik dan dipasarkan di lapas seharga Rp 20 ribu.

"Majalah ini kan membuat tulisan dan segala macem, itu juga dalam rangka mempertahankan bagaimana olah pikir juga," bebernya.
Selain membaca dan menulis, ada kegiatan lain yang menjadi hobi Akil, yakni bermain musik di studio band lapas. Ia mengatakan bahkan sempat memiliki grup band. Namun, band bentukan Akil yang diberi nama Terali itu kini hanya menyisakan dirinya dan seorang pemain drum. Sementara personel lainnya telah meninggalkan lapas untuk pulang ke rumah masing-masing.

Ia mengaku, dengan bernyanyi dan bermain alat musik dapat membantu menghibur diri. "Kalau nge-band itu ya hobi. Kita dibawa juga pada suasana yang gembira, artinya dengan bernyanyi itu kita bisa melepas semua uneg-uneg yang ada kan," kata dia.

Menyoal rasa kangen terhadap keluarga, Akil mengaku tak memungkiri. Terlebih baru saja ia memiliki seorang cucu dari anak pertamanya.

Akil mengungkapkan bahwa istri dan anak-anaknya secara rutin melakukan kunjungan. Waktunya terkadang 2 minggu atau 1 bulan sekali.

"Hal yang paling sulit bagi seorang napi itu adalah ketika dia menjelang tidur, di tempat tidur, di dalam kamar semua pikiran terkonsentrasi, semua akan datang, mengingat keluarga, ingat anaknya, ingat cucu, ingat masalahnya," ujarnya lirih.

Untuk mengatasi hal itu, dia menemukan solusi. Yakni melakukan ritual keagamaan seperti salat malam dan membaca Alquran.

"Mendengar atau membaca Alquran itu untuk menghilangkan pikiran yang tadi itu, bahasa anak muda, galau. Aduh gua udah bosen ni, tapi masih lama bagi yang lama, kalau saya seumur hidup nggak ada batas waktu. Tentu dalam menghadapi problem saya, saya berikhtiar itu," imbuh Akil.

Akil ditangkap KPK pada tahun 2013 lantaran menerima hadiah dan tindak pidana pencucian uang terkait kasus sengketa Pilkada di MK. Ia divonis hukuman penjara seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.
Kini, ia mengaku hanya pasrah dengan keadaan tersebut. Ia mengatakan menerima jika memang hal tersebut merupakan garisan hidupnya yang diberikan Tuhan.

"Apa pun yang kita hadapi ini, ini soal hidup, mungkin juga saya sudah ditakdirkan seperti itu di Lauh Mahfuzh kan kita tidak tahu. Saya bercita-cita keluar dari penjara tapi kalau saya mati di sini ya saya terima itu, takdir, jadi saya kuat ngadepi apa pun," kata Akil.

Source: Kumparan.com

No comments