Mencari Nikmat Sabar -->
IKLAN PEMDA BEKASI IKLAN PEMDA BEKASI HUT RI 2023 VNNCOID

Mencari Nikmat Sabar

, 1/20/2024 03:09:00 PM


  Vnn.co.id, Kabupaten Bogor- Orang yang sabar dan ikhlas akan menelusuri setiap relung masalah untuk mencari segala bentuk hikmah sebagai bahan refleksi dan evaluasi diri. 


Ali bin Abi Thalib RA, menjelaskan bahwa “kesabaran dan keimanan sangat berkaitan erat ibarat kepala dan tubuh. Jika kepala manusia sudah tidak ada, maka tubuhnya tidak akan berfungsi. Demikian pula apabila kesabaran hilang maka imanpun akan ikut hilang”.


Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung (QS. Ali Imron:200).


Menurut Ulama Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbach berdasarkan ayat di atas, hukum bersabar adalah wajib. Setiap hamba yang tertimpa musibah maka wajib bersabar dari awal ujian datang hingga mendapatkan jalan keluarnya. Sabar merupakan tombak utama dalam iman, semakin tinggi kesabaran kita maka semakin tinggi pula iman kita.


Sabar atas maksiat mencegah orang dari perbuatan keji. Sabar dalam taat menguatkan orang dalam menjalankan perintah agama. Sabar atas musibah dan malapetaka meneguhkan hati seseorang dalam mengalami kepahitan hidup.


Sahabatku,  sabar itu nikmat,  bahkan nikmatnya melebihi makanan paling enak yang ada di dunia itu,  melebihi menikmati kecantikan istri-istri kita.  Kenapa? 


Karena dibalik orang sabar ada Allah yang dekat dengan kita.  Tahapan sabar yang seungguhnya bisa mencapai kenikmatan yang luar biasa karena Allah selalu bersama orang-orang itu. 


Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar (QS. Al-baqarah:153)


Kalau kita mengingat sedikit kisah Nabi Ayub, seseorang yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang luar biasa, diuji juga dengan kehilangan keluarga dan hartanya, akan tetapi bagaimana sikap beliau? Ia tetap Nabi Ayub yang memiliki kesabaran yang luar biasa dan menganggap ujian itu adalah bentuk kecintaan Allah Swt. kepadanya. Sesungguhnya, kita sebagai manusia tidak akan dikatakan beriman sedangkan kita tidak diuji.


Berat memang,  tapi pencapaian sabar harus terus kita latih,  ketika dalam latihan itu kita tergelincir,  bangkitlah kembali dalam menyusun puing-puing sabar yang berantakan di hati kita.  


Teruslah berdoa agar kita dibimbing sama Allah dalam mencampai pencapaian itu.  Jangan mudah menyerah.  Terkadang jebakan emosi,  nafsu,  dan kenikmatan menggelincirkan kembali tapi mari bangkit lagi untuk menyusun-nya. 


Tidak ada kenikmatan dan kedamaian melebihi kekhyusukan jiwa kita kepada Allah.  Bahkan kenikmatan yang lain itu semu.


Ada kisah dari sesorang lelaki dalam kondisi buta mata dan buntung tangannya.  Kisah ini diceritakab oleh Al-Auza'i yang ditulis oleh Ibnu Jauzi Uyun Al-Hikayat Min Qashash As-Shalihin wa Nawadir Az-Zahidin dan diterjemahkan oleh Abdul Hayyi Al-Kattani.


Al-Auza'i menceritakan bahwa ada orang bijak pernah bercerita tentang kisah yang ia alami saat ia pergi ke Ar-Ribath (tempat berkumpulnya orang-orang sufi yang biasanya terletak di wilayah perbatasan).


Begitu sampai di Arisy Mesir atau daerah di dekatnya, orang tersebut melihat sebuah kemah yang dihuni oleh seorang laki-laki buta dan buntung kedua tangan dan kakinya. Waktu itu ia sempat mendengar laki-laki itu berucap, " Ya Allah, saya memuji-Mu dengan pujian sepenuh pujian makhluk-Mu atas nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan karena Engkau telah melebihkan saya atas kebanyakan dari makhluk yang Engkau ciptakan."


Orang bijak itu kemudian berkata dalam hati, " Sungguh, saya akan bertanya kepadanya tentang sesuatu yang telah Allah ajarkan atau ilhamkan kepadanya ." Ia pun beranjak mendekatinya, menyapanya dengan salam dan dia pun menjawabnya.


" Saya ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu yang engkau berkenan untuk memberitahukannya kepadaku," kata orang bijak itu kepada orang lelaki buta tersebut.


" Jika memang saya memiliki pengetahuan tentang apa yang akan engkau tanyakan, maka saya akan menjawabnya," jawab orang buta itu.


" Atas nikmat atau keutamaan apa engkau memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT, sementara lengkap sudah musibah dan penderitaan yang engkau alami itu," tanya orang bijak itu kepadanya.


" Bukankah engkau melihat apa yang telah Allah SWT perbuat terhadapku?" kata orang itu.


" Ya, tentu saja," jawab orang bijak.


" Demi Allah, sungguh seandainya Allah SWT menumpahkan api dari langit pada diriku, hingga diri ini terbakar, memerintahkan gunung-gunung untuk runtuh menimpaku, hingga diri ini remuk, memerintahkan lautan untuk meneggelamkanku dan memerintahkan bumi untuk menelanku, niscaya yang terjadi adalah saya akan tetap cinta dan semakin memanjatkan puji syukur kepada-Nya. Saya ingin minta tolong kepadamu. Saya punya seorang anak laki-laki belia yang selama ini selalu membantuku setiap saya mau salat dan berbuka puasa. Sejak kemarin, saya tidak melihatnya. Maukah engkau membantuku untuk mencarikan di mana dia?" kata orang itu.


Orang bijak kemudian berkata dalam hati, " Membantu seorang hamba seperti dia tentu merupakan sebuah amal baik yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT."


" Tentu saja," jawabnya.


Kemudian, orang bijak tersebut mencari keberadaan anak si buta yang saleh itu. Ketika sampai di antara bukit-bukit pasir, ia dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang memilukan. Seekor binatang buas sedang memangsa anak orang tersebut.


Setelah itu, ia pun bergegas ke tenda orang buta tadi dan mengucapkan salam. Orang itu pun membalas salamnya.


" Wahai tuan, saya ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu. Apakah engkau bersedia menjawabnya?" kata orang bijak itu padanya.


" Jika saya memiliki pengetahuan tentang apa yang engkau tanyakan tersebut, maka saya akan menjawabnya," jawab orang itu.


" Apakah engkau lebih mulia kedudukannya di sisi Allah SWT ataukah Nabi Ayub AS?" tanya orang bijak itu kepadanya.


" Tentu saja Nabi Ayub AS lebih mulia dan lebih agung kedudukannya di sisi Allah SWT daripada diriku," jawab si buta itu.


" Bukankah Allah SWT menguji Nabi Ayub dan dia sabar, hingga orang-orang yang semula dekat dengannya mulai menjauhinya," tanya orang bijak itu lagi.


" Ya, benar," jawab si buta.


" Begini, putramu yang engkau ceritakan kepadaku itu, tadi pada saat saya mencarinya, saya tiba di perbukitan pasir dan melihat putramu itu sedang dimangsa binatang buas," kata orang bijak itu menjelaskan kondisi putra dari orang buta itu.


" Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang tidak menjadikan dalam hati ini rasa penyesalan dan kesedihan meratapi dunia," kata orang buta tersebut. Lalu dia pun menarik napas dengan merintih dan tak lama kemudian meninggal dunia.


Melihat hal itu, orang bijak tadi lantas membaca kalimat istirja' dan berkata berkata dalam hati, kira-kira siapa yang akan membantunya memandikan, mengafani, dan memakamkan jenazah laki-laki buta itu.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba kafilah yang hendak menuju ke Ribath melintas di tempat itu. Ia pun memanggil mereka. Dan menceritakan tentang orang buta tersebut dan apa yang terjadi padanya.


Lalu, kafilah tersebut turun dari unta mereka dan menderumkannya. Setelah itu, mereka memandikan jenazah orang tersebut menggunakan air laut, mengafaninya dengan pakaian yang mereka bawa, menyalati dan memakamkannya di dalam kemahnya.


Setelah semuanya selesai, kafilah itu melanjutkan perjalanannya, sementara orang bijak itu masih tetap di sana.


Di tengah malam ia bermimpi melihat orang buta tadi berada di sebuah taman hijau dengan mengenakan pakaian sutra hijau sedang membaca Al-Qur'an.


" Bukankah engkau adalah kawanku itu?" tanya orang bijak itu kepadanya.


" Ya benar," jawabnya.


" Apa yang telah membuatmu mendapatkan apa yang saya lihat ini?" tanya orang bijak itu lagi.


" Saya datang dari kelompok orang-orang sabar pada suatu derajat yang tidak mereka raih kecuali dengan kesabaran di saat mendapatkan ujian dan bersyukur di saat sejahtera," jawabnya.


Al-Auza'i mengatakan, sejak mendengar cerita dari orang bijak tersebut tentang kisah laki-laki buta dan buntung kedua tangan kakinya, namun sabar dan ridha terhadap takdirnya, ia (Al-Auza'i) selalu merasa senang kepada orang-orang yang mendapat ujian hidup


Sahabatku,  berat memang,  tapi tanpa kamu sadari kamu menjadi lebih kuat, loh!.  Dan tanpa kamu sadari kamu mendapat keberuntungan dekat dengan Allah, yang mungkin tidak semua manusia disekelilingmu mendapatkan itu.


0

TerPopuler

close