Kini Pukul :

Cerbung | Mawar Hitam | Episode 5

 


Cerbung: Mawar Hitam

Oleh: Musaafiroh El Uluum

    Huft .... Seorang perempuan menghela napas panjang sembari berkali-kali menengok jam tangan Tajima berdiagonal kecil yang melingkar cantik di tangan kanannya. Suntuk. Dilihatnya jarum telah menunjukkan angka 10 lebih 30 menit. Artinya, waktu perkuliahan molor setengah jam dari biasanya. Ia terus saja membolak-balik lembar makalah di atas meja hingga seseorang berhasil membuatnya tersentak dengan kedatangannya.

“San ... san!!!”

“Ish, ada apa, sih?” geram Santi setelah membenarkan posisi duduk dari kekagetannya. Hampir saja ia meloncat.

“Tadi gua mergokin Si Viola lagi pacaran sama Pak Dimas,” bisik Dila dengan mata berbinar bak menang lotre.

“Oh, ya?” tanya Santi balik sembari membelalakkan mata.

“Iya, malah pelukan gitu,” sambung gadis berpipi gembul itu semakin serius merasa didukung oleh sahabatnya.

“Wow ...,” kata Santi nampak terpukau, “kepo banget, sih kamu jadi orang,” sewot Santi akhirnya seraya memukul dahi karibnya dengan lembaran tebal di tangan lalu melenggang meniggalkannya dengan sisa kata ‘aw’. Gadis itu pun mendengus kesal.

“Pagi anak-anak.” Dosen pun datang ketika Santi telah bersiap di depan kelas dengan materi presentasinya.

“Orientalisme kajian tokoh Richard Bell, siapa yang presentasi?” tanyanya sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Saya, Pak,” sahut Santi.

“Oh, kamu ya. Maaf-maaf saya ga kelihatan,” katanya kalem, “oke, langsung saja kita mulai, ya.”

# # # #

“Baik, diskusi saya cukupkan. Santi, ini makalahnya direvisi ulang. Spesifikkan ... em, maksud saya ... kerucutkan pada bagian latar belakang dan ada satu poin pemikiran yang luput dari pembahasan di sini,” lugas pria di hadapan mahasiswinya bersiap meninggalkan ruangan.

“Oh baik, Pak,” seloroh Santi lalu mengikutinya berdiri sebagai bentuk penghormatan.

“Dua hari lagi, bisa?” Perempuan itu menggigit bibir bawah mendengar penuturan dosennya.

“Du ... dua hari ya, Pak?” Santi nyengir sembari mengulangi perkataan yang ditujukan kepadanya.

It’s no problem, it’s no problem jika kamu mau nilai makalah yang sekarang. Kalau gitu saya masukkan saja tanpa perlu direvisi.”

Plasss ... kata-kata itu terasa menohok sehingga dengan cepat ia menyabetnya, “Oke-oke, Pak. Saya akan revisi.”

Ahh ... berat sebenarnya jika ia harus merubah isi makalah, walaupun hanya sebagian saja. Namun, itu sungguh ... ahh, sudahlah. Kelunya dalam hati sembari menepuk-nepuk jidatnya sendiri.

“Baiklah, cukup sekian dan terima kasih. Saya suka cara berpikir di kelas ini,” ujar Dosen pengampu itu dengan sedikit menyunggingkan senyum, “dan presentasi kamu ...,” ucapannya berhenti sejenak seraya mengarahkan pandangan ke arah Santi yang sedari tadi sibuk merintihkan nasibnya, kemudian merasa juga jika dirinya sedang menjadi pusat perhatian, “good.” Kata-kata itu berhasil membuatnya tercengang untuk kedua kalinya.

# # # #

“Wih ... keren ...,” sorak Dila sembari mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Santi. Sementara Santi hanya mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.

“Kenapa, San? Udah dipuji gitu sama Pak Zain, bukannya girang malah cemberut aja. Nih, ya andaikan aku, pasti udah loncat-loncat jantungku,” serunya ekspresif.

“Hah ...,” sela Santi lalu tertawa. Terkadang kehaluan sahabatnya itu sering berlebihan.

“Tuh, kan ketawa ... emang Dila,” ucapnya sembari membusungkan dada karena merasa hebat telah membuat sahabatnya sedikit lepas dari dilema perevisian.

# # # #

    Alphard merah itu mengkilat diterpa sorotan cahaya Sang Raja Siang. Rupanya sejak pagi tadi mobil itu belum berpindah posisi. Tak lama kemudian, perempuan muda keluar dari gubuk reyot dengan serangkai bunga di tangannya. Bersama seorang wanita renta ia berjalan lebih jauh dari pintu tua menuju kendaraannya.

“Saya pulang dulu ya, Nek,” ujar gadis itu sopan.

“Iya, Cu. Hati-hati ... salamkan pada mamamu,” jawabnya pelan sembari mengusap lengan gadis itu. Ia pun mengangguk dengan tidak meninggalkan senyum manis pada wajahnya.

Sejurus kakinya melangkah ke arah otto merah yang setia menunggunya, namun sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Viola”

Gadis itu menoleh ke sumber suara, sesosok pria berdiri tak jauh dari gubuk dengan pakaian serba hitamnya. Anak rambutnya tertiup angin, menampakkan segurat khawatir pada raut ayunya, akan tetapi dengan cepat kembali ke keadaan semula. Ia sanggup mengendalikan diri lantas segera meraih sayap mobil dan cepat-cepat melajukannya.

# # # #

 

    Sebagaimana rencana, aku dan Dila telah bersepakat untuk ngampus lebih awal sebab selain Dila ingin mengembalikan buku perpus, aku juga punya janji soal pemenuhan nilai tugas matkul Pak Zain dua hari yang lalu. Sesampai depan gerbang, ternyata pagar besi itu masih rapat terkunci.

“Duh, gerbangnya masih digembok, San,” kata Dila kecewa.

“Wah, mungkin kita kepagian, ya?”

“Ih, enggak. Seharusnya jam segini pak satpam udah dateng, sih.”

“Emm, berarti pak satpamnya telat, nih.”

“Iya keknya.”

Semenit dua menit kami menunggu sembari mondar-mandir di depan gedung berlantai empat itu sebelum akhirnya orang yang dinanti telah datang.

Tin ... tin ....

“Pagi, Neng ...,” sapa seorang berseragam putih biru di atas kuda besinya.

“Pagi, Pak. Tumben telat,” kata Dila ketika lelaki paruh baya itu menenteng kunci-kunci yang mengharuskannya membuka dan menutup pintu-pintu gedung besar itu setiap harinya. Dari cara memasukkannya ke lubang gembok, seakan terlihat sudah kerja kerasnya sekeras suara berat perputaran gerigi-gerigi berkarat di sana. Seolah gemerincing setiap pergerakannya bercerita akan keteguhan hati jiwa pengabdi yang telah bertahun-tahun mengabadikan darmanya lewat profesi.

“Iya, Neng. Kena macet tadi.”

“Pagi bener, Neng?” Aku tersentak dengan petanyaan pria bertopi biru itu. Sebab dari tadi pikiranku sama sekali tak mengindahkannya.

“Eh, iya, Pak. Mau ketemu sama dosen,” sahut Santi.

“Oh ... silakan.”

“Makasih, Pak.”

“Iya, Neng,” timpalnya ramah. Kemudian bergegas menuju pintu demi pintu lalu menaiki lantai demi lantai untuk menyelesaikan tugasnya.

Setelah gerbang terbuka lebar, segera saja kakiku bergerak menyusuri halaman luas yang masih lenggang dari kendaraan-kendaraan warga kampus. Tak banyak cakap antara aku dan Dila, hanya riuh rendah angin yang sibuk membuat rerimbunan daun pohon di sudut-sudut kampus itu menimbulkan suara, sebelum akhirnya Dila mengajakku untuk duduk di kursi depan kelas seperti biasa. Namun, entah mengapa aku ingin sekali mengunjungi kepermaian taman belakang, jalan setapak menuju tempat praktik anak-anak Biologi.

Berkali-kali Dila menolak, berkali-kali pula aku membujuknya menuruti kemauanku. Pada akhirnya ia mau membuntutiku ke taman belakang kampus.

Aku memang belum pernah ke sana. Selain malas, tugas menuntutku terus berkutat di dalam perpustakaan dengan diktat-diktat tebal di sana. Kesunyiaan tempat itu pun kumanfaatkan merefresh kejenuhan dengan menikmati komik maupun novel horor yang kubeli di Orange Book Store.

Belum juga sampai di tempat yang dituju, kami telah disambut dengan semerbak harum melati serta warna-warni mencolok dari tanaman yang disebut-sebut Rosa. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di balik sesemakan di sana. Tak ada yang bergerak, akan tetapi sebuah benda nampaknya tak asing untuk dikenali jenisnya. Pelan-pelan aku mendekatinya.

“San, mau ke mana? Di sini aja, banyak bunga-bunga cantik, uwuw” pinta Dila terlihat gemas.

Aku tak mempedulikannya seraya meneruskan langkahku yang semakin mendekati rasa penasaranku, setelah semakin dekat semakin aku bisa mengenali bahwa benda itu ternyata sepatu. Tetapi, kenapa ada sepatu di situ? Semakin merajuk penasaranku ini, sehingga aku tak peduli seberapa jauh aku melangkah meninggalkan Dila di sana.

“Ahh ...,” teriakku seraya menabok lengan atas Dila karena mengagetkanku dengan kehadirannya tiba-tiba di sampingku, “Ish, kamu Dila.”

“Ih, habisnya kamu, sih. Diajakin ngomong malah pergi,” sergah Dila membela diri.

“Ada apa, sih? Ngapain? Ngelihatin apaan? Ma ... emmmbbb,” tanyanya memberondongku, seketika kubungkam mulutnya, mengisyaratkan untuk tetap tenang lalu mengangkat telunjukku ke arah yang membuatku penasaran.

Tanpa banyak protes ia mengangguk tanda paham apa yang kumaksud, namun tak lama lagi ia berbisik, “Itu apa, San?”

“Aku juga gak tahu,” jawabku juga berbisik, hampir-hampir tak keluar suara hingga yang terlihat hanya mulut yang bergerak-gerak a-i-u-e-o.

Kami pun merapatkan diri satu sama lain, mencoba semakin dekat dengan benda di balik rimbunan perdu itu. Seketika happ ... seekor kucing hitam melompat ke arah kami, yang akhirnya lagi-lagi aku berteriak, “Aaahhh ....”

“San, kucing hitam, San ...,” jerit Dila sambil mengibas-ngibaskan tangannya di atas bajunya. Seolah membuang apa-apa yang menempel di sana.

Sementara aku, sama. Tetapi sedikit lebih tenang daripadanya. Sebab, aku terbiasa dengan sesuatu yang berbau mistis.

“Kamu kok tenang-tenang aja, sih San?” protesnya. Sedang aku hanya mengangkat alis heran menatapnya.

“Itu kucing hitam, San. Sial kalo kita diloncati atau tersentuh,” jengkel Dila yang kusambut dengan gelengan tak peduli.

“Mitos,” cetusku. Sejurus kemudian fokus kami tak lagi ke kucing hitam, tetapi kembali ke benda di balik semak belukar tadi.

“Tapi, kok. Itu manusia apa bukan, sih,” tanya Dila semakin terperas juga jantungnya.

Aku juga tak mengira jika sepatu itu tak bergerak sama sekali, jika memang benar ada manusia yang mengenakannya. Sebab suara jerit kami yang terlalu nyaring.

“Neng, kenapa, Neng,” tanya seseorang tiba-tiba yang baru saja muncul dari belakang kami. Oh, ternyata pak satpam yang mengaku mendengar teriakan kami tadi.

“Dari sana, saya dengar lho eneng-eneng ini teriak. Ada apa?” tanyanya lagi.

“Emm ... emm ...,” jawabku terbata, “eng ... enggak, Pak. Eng ... enggak ada apa-apa.”

“Semuanya aman terkendali,” timpal Dila mengulum senyum sembari mengacungkan dua huruf ‘o’ yang dibentuk dari telunjuk dan ibu jarinya.

“Oh, gitu. Ya sudah kalo begitu. Bapak lanjut kerja dulu, ya,” katanya lalu beranjak pergi.

Kami pun kembali mengamati sepatu di sana. Namun, secara tak sadar ternyata kami sudah sangat dekat dengan keberadaan benda yang sedari awal menggedor-gedor lubuk kami, dan saat berbalik pun lagi-lagi kami histeris mendapati sekujur tubuh manusia tergeletak di sana.

“Aaahhhhh ....” Teriakan kami bersamaan membuat satpam yang telah menghilang dari pandangan kembali terbirit-birit menghampiri.

“Kenapa lagi, Neng?” tanyanya memburu alasan. Napasnya tak beraturan.

Sementara aku tak lagi dapat berkata-kata. Tegang. Hanya mengarahkan pandangan pak satpam ke arah sosok yang telah lebih dahulu kami ketahui dengan satu jari. Ia pun tergopoh-gopoh menuju ke arah yang kutunjukkan.

“Hah!!! Mayat???” Ia terpekik. Sudah kuduga ekspresinya juga menunjukkan kepanikan. Sementara baik aku, Dila, dan pria berseragam putih biru itu tak tahu harus ke mana dan bagaimana. Roman kami diselimuti kesusahan, kehilangan, dan kegundahan.

Bersambung ....